SEARCHING HERE

Memuat...

Jumat, 09 April 2010

Perekonomian Indonesia Tentang Pola Konsumsi Dan Tabungan

POLA KONSUMSI
Konsumsi adalah salah satu bagian dari aktivitas manusia yang tidak mungkin dihindarkan atau ditinggalkan selama manusia masih hidup. Konsumsi dalam arti yang luas meliputi dua wilayah, yakni, konsumsi fisik yang bersifat materiil, dan konsumsi batin yang bersifat kejiwaan. Orang akan mati bila tidak makan dan minum. Demikian juga, orang akan mengalami kekeringan jiwa jika tidak mendapatkan konsumsi batin yang cukup.
Ketika orang berbicara tentang konsumsi dari sisi materiilnya, ukurannya meski juga tidak selalu pasti, namun masih bisa menggunakan indikator atau standarisasi tertentu untuk mengukurnya. Misalnya, pengertian sandang, pangan dan papan.
Dilihat dari kebutuhan fisisnya, sandang berfungsi untuk melindungi manusia dari kondisi (termasuk didalamnya iklim) alam lingkungannya; panas, dingin, debu dan sebagainya. Sementara, secara agamis atau dari sisi moral, pakaian selain melindungi fisiknya, juga untuk menutup auratnya. Sehingga dengan berpakaian yang memenuhi syarat fungsionalnya, diharapkan, disamping orang akan terjaga kesehatannya, juga terjaga dari kemungkinan perilaku a-moral lawan jenisnya.. Karenanya, yang menjadi pertanyaan adalah berpakaian seperti apa yang kemudian bisa dikatakan sebagai konsumtip ?
Orang dikatakan berpakaian konsumtip apabila pakaian yang dipakainya sudah terkelupas dari fungsi utamanya. Dan, secara ekonomi sudah tidak lagi memenuhi nilai ekonomisnya. Sebagai contoh, dengan uang yang semestinya bisa dibelikan pakaian yang sudah mampu memenuhi syarat fungsional. Orang justru membeli pakaian yang meski sudah memenuhi syarat moral, yakni, menutupi seluruh auratnya; namun, tidak memenuhi syarat fisis. Karena, pakaian yang dibelinya terbuat dari bahan yang cocok atau lebih cocok untuk dipakai di daerah yang secara geografis berbeda. Misalnya, beriklim dingin. Sementara, ia tinggal di daerah tropis. Sebaliknya, meski sering pula pakaian yang dibelinya sudah memenuhi syarat fisis. Namun, dilihat dari sisi modelnya tidak memenuhi syarat moral. Hal ini dikatakan konsumtip juga. Karena, dengan uang yang dikeluarkannya, sesungguhnya sudah berlebih atau bahkan sering sangat berlebih untuk bisa dibelikan pakaian yang memenuhi syarat fungsional. Bahkan yang sering terjadi dalam alam kehidupan konsumtip saat ini, pakaian sudah sering tidak lagi memperhatikan kedua syarat fungsionalnya. Apalagi dilihat dari sisi ekonomisnya.

Dengan label special design orang rela mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk membayar pakaian yang terbuat dari bahan yang harganya hanya seperberapa dari harga produk akhirnya. Belum lagi ketika pakaian itu dipakai. Tidak jarang membuat lawan jenis yang melihatnya melotot karenanya. Bukan karena model atau bahan yang dipakainya. Tetapi, lebih karena pakaian tadi bukannya melindungi aurat. Melainkan justru menjadikannya bagian-bagian tubuh sebagai sajian rasa berahi lawan jenis. Untuk apa ? Untuk mendapatkan perhatian umum. Agar dikatakan sebagai orang hebat !. Beda dengan yang lain !. Orang modern ?. dan lain-lain, dan lain-lain.
Dari sini, fungsi pakaian sudah bergeser dari fungsi utamanya. Pakaian tidak lagi sekedar menjadi alat pelindung fisik seseorang dari iklim dan nafsu lawan jenis, tetapi, sudah menjadi bagian dari perangkat untuk mewujudkan eksistensi seseorang. Dalam semangat seperti ini, meski sering bisa dikata kurang atau bahkan mungkin tidak cocok, mereka berpakaian layaknya orang-orang di wilayah lain yang jelas berbeda baik dari sisi geografis maupun budayanya. Hal seperti ini dilakukan agar si pemakai bisa dikatakan setara dengan standart kehidupan mereka. Mereka tidak lagi melihat pakaian dari sisi fungsionalnya. Tetapi sudah menempatkannya ke dalam wilayah status sosial. Atau mungkin yang lebih trendy lagi sebagai gaya hidup. STYLE !!!.
Dengan bergaya seperti ini. Meski harus mengorbankan nilai fungsional dan ekonomisnya, mereka mendapatkan satu sisi lain yang merupakan bagian integral dalam berkonsumsi, yakni, kepuasan batin !!!. Salahkah dia ?!?.
Sebuah pertanyaan pendek yang membutuhkan jawaban panjang. Karena, kita tidak bisa melihatnya dengan sebelah mata saja. Hanya kemudian yang menjadi persoalan adalah sistem nilai seperti apa yang akan dipakai untuk dijadikan sebagai indikator penilaian atas hal ini.
Dari kacamata kapitalistik, dimana, keinginan atau kebutuhan manusia harus dipompa habis-habisan agar mampu menyerap semua produk industri. Pendapat atau keyakinan diatas adalah benar. Karena, semangat beda, lebih dari yang lain, atau dalam bahasa globalnya bersaing bebas atau persaingan bebas adalah sebuah karakter yang menjadi prasyarat bagi berjalan sempurnanya sistem ini. Sebuah sistem yang tidak mengakui keberadaan etika dan moral sebagai penjaga sekaligus pengawal bagi terciptanya keharmonisan pergaulan antar umat manusia. Etika bagi seorang kapitalis adalah bagaimana menciptakan sebuah keyakinan sehingga orang yang dieksploitir tidak merasakan sakitnya. Sebaliknya, justru menikmatinya sebagai sebuah anugrah berupa kesempatan yang tidak boleh disia-siakan dalam kehidupannya. Demikian pula moralitas. Bagi mereka, moralitas adalah bagaimana mereka bisa meraih keuntungan sebesar-besarnya atas investasi yang ditanamnya. Mereka tidak perduli dengan apa dan bagaimana akibat yang ditimbulkannya. Mereka tidak peduli apakah dengan pakaian yang dipasarkannya itu akan mendorong munculnya banyak kasus pemerkosaan, atau apakah dengan pakaian itu akan mengakibatkan si pemakai terpaksa melakukan utang yang sesungguhnya tidak perlu dilakukan. Bagi mereka, ini tidak penting !!!
Dalam kerangka berpikir seperti ini. Berkonsumsi adalah hak asasi individual yang tidak memiliki tanggungjawab sosial. Karenanya, maksimalisasi pola konsumsi menjadi bagian yang sangat dianjurkan. Dan, untuk memacunya, mereka membawanya kedalam sebuah gaya hidup yang kemudian diberi label atas tingkat kemampuan berkonsumsinya sebagai status sosial.
Bagi peyakin ideologi ini, ekses yang diakibatkan atau ditimbulkan oleh investasi bukanlah menjadi tanggungjawabnya. Karena, hanya dengan memacu pola konsumsi masyarakat semaksimal mungkin seperti inilah mereka berharap produk industri akan terserap oleh pasar. Sebuah artikulasi dari pengertian konsumsi dalam teori pertumbuhan dimana keuntungan pasti akan mereka peroleh dari investasi yang mereka tanam.
Sebaliknya, apabila kita melihatnya dari kacamata sosialistik. Sikap dan perilaku seseorang tidak hanya mewakili dirinya sendiri. Melainkan di dalam hak-hak individual-nya terkandung hak dan kepentingan orang lain. Atau dengan kata lain, setiap gerak dari individu dalam masyarakat akan berpengaruh terhadap lingkungannya. Dan, demikian pula sebaliknya.
Karenanya, didalam berkonsumsi. Seorang yang berpandangan sosialis akan memper-timbangkan berbagai pengaruh yang mungkin muncul dari sikap dan perilakunya. Sehingga, meski memiliki kemampuan membeli atas sebuah produk. Hal ini sering tidak dilakukannya. Bukan karena tidak ingin mengkonsumsi atau tidak mampu membelinya, melainkan, justru karena pertimbangan kondisi sosial-ekonomi sekelilingnya. Atau, bahkan tidak jarang, sikap diatas muncul atas pertimbangan moral. Dalam pola berpikir seperti ini, orang didorong untuk menyimpan kelebihan kemampuan konsumsi kedalam tabungannya, atau dengan kata lain melakukan saving. Baik itu dilakukan dalam bentuk uang atau bisa juga dalam bentuk barang. Yang dalam masyarakat yang oleh kaum kapitalis disebut sebagai masyarakat tradisional, biasa diwujudkan dalam bentuk logam mulia (perhiasan emas). Dalam kerangka berpikir seperti ini, nafsu berkonsumsi dikendalikan oleh norma-norma sosial. Sementara, nafsu atau keinginan untuk berhias diri (berkonsumsi) sebagai salah satu cara untuk mengekpresikan eksistensi diri, mereka ekspresikan pada acara-acara adat maupun hajatan (sunatan, pernikahan dll). Dalam situasi seperti ini norma-norma sosial dan budaya yang ada di dalam masyarakat ikut berperan aktif di dalam membentuk kerangka berpikir ekonomi masyarakatnya. Perhiasan yang berupa logam mulia dalam masyarakat seperti ini memiliki fungsi ganda, yakni, sebagai barang konsumsi sekaligus simpanan (tabungan). Karenanya, daya tahan serta kekuatan ekonomi sebuah keluargapun akan sangat ditentukan oleh seberapa besar keluarga itu mampu melakukan saving. Semakin besar cadangan logam mulia berada pada sebuah keluarga, akan semakin tenang mereka menghadapi kehidupannya. Sebaliknya, semakin minim cadangan modal tadi mereka miliki, semakin rentan pula mereka terhadap persoalan yang bersifat mendesak, seperti, keluarga ada yang masuk rumah sakit, gagal panen (pada masyarakat pertanian), beaya pendidikan anak dsb.
Dalam masyarakat yang sekarang sering mengaku sebagai modern, saving bisa pula dilakukan dengan memanfaatkan jasa perbankan, baik menggunakan tabungan harian ataupun tabungan berjangka. Hanya saja, karena fluktuasi nilai mata uang yang sering tidak menguntungkan deposan. Maka saving dengan menggunakan logam mulia, bagi masyarakat awam, jauh lebih aman, mengingat harga logam mulia yang sampai saat ini terkait dengan standar pasar internasional. Apalagi ada semacam aturan tak tertulis yang hingga kini masih berlaku dalam perdagangan logam mulia bahwa penjual (pedagang/toko) logam mulia harus mau membeli kembali barang dagangannya setiap saat pembeli hendak mengembalikan (menjual kembali) kepada penjual dengan harga pasar terakhir.
Dari gambaran sepintas tadi, sebenarnya bisa kita lihat bahwa konsumsi sebagai bagian dari sistem kehidupan makhluk hidup termasuk kita manusia, adalah sesuatu yang tidak mungkin kita tinggalkan. Hanya saja persoalan yang muncul adalah ketika konsumsi itu sendiri sudah tidak lagi didasarkan atas kebutuhan, melainkan sudah menjadi kebutuhan.

POLA KONSUMSI YANG DIPENGARUHI UNSUR BUDAYA
Selain hal yang ada di atas, pola konsumsi juga dipengaruhi oleh aspek budaya. Berbicara tentang budaya dan pola konsumsi adalah bicara tentang dua hal yang tak mungkin terpisahkan. Pola makan (konsumsi dalam pengertian sempit) akan berpengaruh terhadap cara berpikir dan perilaku yang akhirnya akan menjadi faktor penentu dalam membentuk budaya manusia, tentu saja disamping faktor yang lainnya seperti kondisi alam dlsb. Sebaliknya, budaya sebuah masyarakat juga akan berpengaruh terhadap cara berpikir dan perilaku masyarakatnya, termasuk didalamnya, pola konsumsinya. Karenanya, pola konsumsi dan budaya sebuah masyarakat adalah suatu hubungan yang bersifat korelatif. Namun, karena kebudayaan melahirkan sistem nilai yang kemudian terimplementasikan kedalam norma-norma sosial. Maka, kebudayaan mempunyai kekuatan menjaga sekaligus melindungi sistem kemasyarakatan dimana kebudayaan itu sendiri hidup, tumbuh dan berkembang.
Sehingga, tidak keliru pula kiranya, jika usaha kaum kapitalis untuk merubah pola konsumsi masyarakat kita yang sebelumnya dikenal sebagai hemat dan suka melakukan saving kapital menjadi masyarakat konsumtif, adalah dengan menghantam terlebih dahulu budaya masyarakatnya.
Dengan berbagai sarana yang mereka miliki, kerangka berpikir dan perilaku liberal yang termanifestasikan kedalam berbagai kegiatan sosial-budaya mereka, mereka paksakan masuknya ke negeri ini. Masuknya industri shoft drink seperti Coca-Cola dan minuman kemasan lainnya, sebagai prasyarat awal bagi masuknya investasi mereka di negara-negara dunia ketiga. Rupanya, mampu menyingkirkan fungsi patehan (orang yang bertugas membuat minuman) dalam sistem komunitas yang ada. Sebuah langkah awal yang dalam skala waktu berikutnya mampu meruntuhkan sistem kekerabatan yang selama ini menjadi tali pengikat sistem kemasyarakatan dalam masyarakat kita. Demikian pula dependensi orang-seorang terhadap masyarakat lingkungannyapun memudar sejalan dengan semakin meningkatnya berbagai produk makanan instan yang diproduksi oleh industri-industri padat modal yang kini mulai menguasai dapur-dapur ibu-ibu modern. Hampir tidak pernah lagi kita dengar, seorang ibu rumah tangga minta ke tetangga sebelah barang sejimpit garam, laos, atau daun salam, untuk melengkapi bumbu masakannya yang lupa dia belanjakan di pasar, yang kemudian diikuti dengan sedikit obrolan ringan tentang berbagai fenomena kemasyarakatan yang ada. Demikian pula, semakin menipisnya kebutuhan silaturahmi antar tetangga sebagai akibat dari semakin menipisnya sisa waktu dan tenaga individu keluarga untuk memenuhi kebutuhan konsumsinya. Kiranya, semakin menunjukkan betapa efektifnya berbagai manuver yang dilakukan oleh kaum kapitalis terhadap sistem pertahanan budaya kita.
Meningkatnya semangat untuk mencapai kemajuan yang di indikasi oleh meningkatnya pola konsumsi individu keluarga, rupanya, benar-benar mampu memotong mata rantai ikatan kemasyarakatan yang sebelumnya menjadi pagar pengaman bagi sebuah komunitas. Sementara, kerangka penyelesaian individual oleh individu keluarga semakin menguat seiring dengan semakin terbatasnya kesempatan komunikasi mereka dengan lingkungannya dalam menangani berbagai persoalan kehidupan. Inilah yang kemudian sering kita kenal sebagai sebuah bentuk penetrasi budaya.
Sebuah operasi budaya yang dampaknya bisa kita lihat dan rasakan bersama, apabila kita mampu melihat secara kritis kondisi kebangsaan kita akhir-akhir ini. Dimana, kontrol sosial tidak lagi mampu berfungsi efektif. Demikian juga, sangsi sosial tidak lagi mempunyai kekuatan untuk mengerem, melarang, apalagi menghentikan berbagai tindak a-sosial, kriminal maupun a-moral anggota masyarakat sebagai akibat dari semakin mengecilnya dependensi mereka terhadap lingkungan kemasyarakatannya.
Sebuah keberhasilan yang sangat luar biasa dari sebuah pertarungan budaya. Dimana uang, yang tidak lagi bisa dikontrol perolehan dan penggunaannya oleh sistem sosial-budaya masyarakatnya, menjadi kekuatan utama dalam menyelesaikan berbagai persoalan kehidupan keluarga.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar